Jumat, 10 Februari 2017

Sosok Panutan Dalam Hidupku

Esensi Ta’dzim Seorang Kiai Hasyim

Sebelum menulis esai ini, Saya ingin berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, Dengan penulisan esai ini,  Saya yang sebenarnya tidak / mungkin belum pandai menulis, berharap untuk bisa menulis dengan baik. Semoga. Entah tulisan ini layak disebut esai atau lebih cocok dicap sebagai coretan amatir salah seorang mahasiswa yang masih belajar apa-apa.
Terkait penugasan esai tentang sosok panutan ini, Saya ingin menggambarkan salah satu dari beliau-beliau yang berhasil menginspirasi Saya. Bagi Saya, menjadi diri sendiri itu penting. Namun, banyak sekali figur-figur panutan yang bisa dijadikan tauladan dengan meniru perangai terpujinya sehingga menjadi pelajaran bagi kita untuk lebih menyempurnakan kualitas diri.
***
Hadratusy Syaikh Kiai Haji Hasyim Asy’ari merupakan sosok pribadi yang melegenda di tanah Jawa. Sebagai seorang ulama panutan, beliau tidak hanya pandai berbicara diatas mimbar, tetapi juga memiliki tradisi kepenulisan yang kuat. Diantara karya-karya beliau yakni Adabul ‘Alim  Wal Muta’allim, Risalah Ahlissunnah Wal Jama’ah, Ziyadatut Ta’liqot, At-Tibyan Fin Nahyi An-Muqothoatil Arham Wal Aqorib Wal Ikhwan, An-Nurul Mubin Fi Mahabbati Sayyidil Mursalin, At-Tanbihatul Wajibat Li Man Yasna’ Al-Mauli Bil Munkaroti, Dhou’ul Misbah Fi Bayani Ahkamin Nikah, dan lain sebagainya. Selain menulis kitab, Kiai Haji Hasyim Asy’ari juga rajin menyebarkan ilmu dan pendapatnya di sejumlah media yang beredar secara nasional pada masa itu, diantaranya Soeara Muslimin Indonesia, Berita NO, Soeloeh NO, Swara NO, dan sederet media lainnya.
Dalam kehidupan pesantren, perilaku ta'dzim (hormat) pada guru sangat dijunjung tinggi. Seorang santri yang baik adalah dia yang mampu memuliakan gurunya tanpa ada maksud tertentu. Seorang santri selalu ikhlas melakukan apa saja yang dikehendaki gurunya. Ia senantiasa terdorong untuk menyelesaikan kegundahan sang guru bilamana gurunya sedang bersusah hati. Sebuah kisah, pernah suatu hari Syaikhona KH. Cholil Bangkalan-yang merupakan guru Kiai Haji Hasyim Asy'ari- sedang gundah hatinya. Kegundahan itu tidak bisa disembunyikan di hadapan santrinya. Kiai Haji Hasyim Asy'ari yang saat itu masih nyantri tidak tega melihat guru nya gundah, lalu Kiai Haji Hasyim bertanya pada KH. Cholil apa gerangan yang menyebabkan dirinya sangat sedih. Ternyata cincin keSayangn bu Nyai Cholil jatuh kedalam septic-tank. Mendengar curahan sang guru, Kiai Haji Hasyim tidak segan-segan membersihkan septic-tank untuk mencari cincin yang di maksud. Ternyata cincin yang dicari berhasil didapat dan berhasillah pula Kiai Haji Hasyim menghilangkan kesedihan KH. Cholil. Contoh sikap yang dilakukan oleh Kiai Haji Hasyim, saat ini sangat sulit ditemui. sikap ta'dzim yang demikian mulai dianggap sebagai kenaifan yaitu bentuk primordial.
Setelah KH. Hasyim Asy'ari mendirikan pesantren di daerah Tebuireng, Jombang, kekondangannya sabagai Kiai yang alim dan kharismatik terdengar seantero negeri. sehinggga tak ayal banyak orang berbondong-bondong untuk berguru pada Kiai Haji Hasyim. Suatu saat, ada rombongan yang berduyun-duyun menemui Kiai Haji Hasyim Asy'ari untuk diterima sebagai santrinya dan diantara rombongan itu terdapat beberapa kiai yang notabennya menjadi guru di pesantren tempat Kiai Haji Hasyim nyantri dulu. Melihal hal yang demikian, Kiai Haji Hasyim menolak maksud gurunya untuk menjadi santri beliau. Namun, karena di paksa akhirnya Kiai Haji Hasyim bersedia menerima gurunya untuk menjadi santrinya, tapi dengan syarat para kiai itu dilarang untuk mencuci baju dan memasak serta dilarang memanggil Kiai Haji Hasyim dengan sebutan kiai.
Pada suatu malam, ada seseorang yang mengumpulkan baju-baju kotor para kiai –yang menjadi santri Kiai Haji Hasyim Asy'ari- untuk dicuci. Sekelebatan, salah satu kiai terbangun Karena penasaran, kiai itu bangun dan mengikuti arah seorang yang tadi mengambil baju. Setelah didekati, beliau mendapati orang yang sedang mengambil baju kotor dan dicucinya itu tidak lain adalah Kiai Haji Hasyim sendiri. mendapati hal demikian, kiai itu menangis melihat ke tawadlu'an KH. Hasyim Asy'ari kepada guru-gurunya. Kiai Haji Hasyim Asy'ari merupakan role model bagi orang-orang seantero negeri, sehingga beliau dijuluki sebagai Hadratussyaikh yang berarti Mahaguru.
Selaksa puja dan samudera syukur ke hadirat Sang Maha Luhur, Allah SWT yang telah memberikan Saya kesempatan menjelajahi dunia Pondok pesantren, Tempat berproses menemukan kedirian sebagai media pendewasaan. Disana Saya menemukan arti penting keta’dziman terhadap beliau-beliau yang mulia dan pertama kali dimuliakan oleh Tuhan. Iqra’ wa robbukal akrom. Alladzi ‘allama bilqalam (Bacalah dan Tuhanmu Maha Lebih Mulia). Guru bersama Tuhan dalam akrom-Nya, karena Guru bersinggungan dengan metode, sarana, maupun maintenance pengajaran. Itulah makna qalam.
***
Dari hal tersebut, Saya berusaha memampukan diri untuk menerapkan apa-apa yang telah Saya dapat sebagai bentuk ikhtiar dalam menyempurnakan kualitas diri dengan senantiasa menjaga rasa hormat terhadap dosen, ustadz, kyai, dan semua orang yang Saya anggap sebagai guru Saya. Bagi saya,  Every places are my classroom and every people I met are my new teacher.

*Diketik pada minggu kedua di bulan februari