Esensi Ta’dzim Seorang Kiai Hasyim
Sebelum
menulis esai ini, Saya ingin berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, Dengan penulisan esai ini, Saya yang sebenarnya
tidak / mungkin belum pandai menulis, berharap untuk bisa menulis dengan baik.
Semoga. Entah tulisan ini layak disebut esai atau lebih cocok dicap sebagai coretan
amatir salah seorang mahasiswa yang masih belajar apa-apa.
Terkait
penugasan esai tentang sosok panutan ini, Saya ingin menggambarkan salah satu
dari beliau-beliau yang berhasil menginspirasi Saya. Bagi Saya, menjadi diri
sendiri itu penting. Namun, banyak sekali figur-figur panutan yang bisa dijadikan
tauladan dengan meniru perangai terpujinya sehingga menjadi pelajaran bagi kita
untuk lebih menyempurnakan kualitas diri.
***
Hadratusy
Syaikh Kiai Haji Hasyim Asy’ari merupakan sosok pribadi yang melegenda di tanah
Jawa. Sebagai seorang ulama panutan, beliau tidak hanya pandai berbicara diatas
mimbar, tetapi juga memiliki tradisi kepenulisan yang kuat. Diantara
karya-karya beliau yakni Adabul ‘Alim
Wal Muta’allim, Risalah Ahlissunnah Wal Jama’ah, Ziyadatut Ta’liqot,
At-Tibyan Fin Nahyi An-Muqothoatil Arham Wal Aqorib Wal Ikhwan, An-Nurul Mubin
Fi Mahabbati Sayyidil Mursalin, At-Tanbihatul Wajibat Li Man Yasna’ Al-Mauli
Bil Munkaroti, Dhou’ul Misbah Fi Bayani Ahkamin Nikah, dan lain sebagainya.
Selain menulis kitab, Kiai Haji Hasyim Asy’ari juga rajin menyebarkan ilmu dan pendapatnya
di sejumlah media yang beredar secara nasional pada masa itu, diantaranya
Soeara Muslimin Indonesia, Berita NO, Soeloeh NO, Swara NO, dan sederet media
lainnya.
Dalam kehidupan pesantren, perilaku ta'dzim (hormat) pada
guru sangat dijunjung tinggi. Seorang santri yang baik adalah dia yang mampu
memuliakan gurunya tanpa ada maksud tertentu. Seorang santri selalu ikhlas
melakukan apa saja yang dikehendaki gurunya. Ia senantiasa terdorong untuk
menyelesaikan kegundahan sang guru bilamana gurunya sedang bersusah hati.
Sebuah kisah, pernah suatu hari Syaikhona KH. Cholil Bangkalan-yang merupakan
guru Kiai Haji Hasyim Asy'ari- sedang gundah hatinya. Kegundahan itu tidak bisa
disembunyikan di hadapan santrinya. Kiai Haji Hasyim Asy'ari yang saat itu masih
nyantri tidak tega melihat guru nya gundah, lalu Kiai Haji Hasyim bertanya pada
KH. Cholil apa gerangan yang menyebabkan dirinya sangat sedih. Ternyata cincin
keSayangn bu Nyai Cholil jatuh kedalam septic-tank.
Mendengar curahan sang guru, Kiai Haji Hasyim tidak segan-segan membersihkan septic-tank untuk mencari cincin yang di maksud.
Ternyata cincin yang dicari berhasil didapat dan berhasillah pula Kiai Haji
Hasyim menghilangkan kesedihan KH. Cholil. Contoh sikap yang dilakukan oleh
Kiai Haji Hasyim, saat ini sangat sulit ditemui. sikap ta'dzim yang demikian
mulai dianggap sebagai kenaifan yaitu bentuk primordial.
Setelah KH. Hasyim Asy'ari mendirikan pesantren di daerah
Tebuireng, Jombang, kekondangannya sabagai Kiai yang alim dan kharismatik
terdengar seantero negeri. sehinggga tak ayal banyak orang berbondong-bondong
untuk berguru pada Kiai Haji Hasyim. Suatu saat, ada rombongan yang
berduyun-duyun menemui Kiai Haji Hasyim Asy'ari untuk diterima sebagai
santrinya dan diantara rombongan itu terdapat beberapa kiai yang notabennya
menjadi guru di pesantren tempat Kiai Haji Hasyim nyantri dulu. Melihal hal
yang demikian, Kiai Haji Hasyim menolak maksud gurunya untuk menjadi santri
beliau. Namun, karena di paksa akhirnya Kiai Haji Hasyim bersedia menerima
gurunya untuk menjadi santrinya, tapi dengan syarat para kiai itu dilarang
untuk mencuci baju dan memasak serta dilarang memanggil Kiai Haji Hasyim dengan
sebutan kiai.
Pada suatu malam, ada seseorang yang mengumpulkan baju-baju
kotor para kiai –yang menjadi santri Kiai Haji Hasyim Asy'ari- untuk dicuci.
Sekelebatan, salah satu kiai terbangun Karena penasaran, kiai itu bangun dan
mengikuti arah seorang yang tadi mengambil baju. Setelah didekati, beliau
mendapati orang yang sedang mengambil baju kotor dan dicucinya itu tidak lain
adalah Kiai Haji Hasyim sendiri. mendapati hal demikian, kiai itu menangis
melihat ke tawadlu'an KH. Hasyim Asy'ari kepada guru-gurunya. Kiai Haji Hasyim
Asy'ari merupakan role model bagi orang-orang seantero negeri,
sehingga beliau dijuluki sebagai Hadratussyaikh yang berarti Mahaguru.
Selaksa puja dan samudera syukur ke hadirat Sang Maha Luhur, Allah SWT
yang telah memberikan Saya kesempatan menjelajahi dunia Pondok pesantren, Tempat berproses menemukan kedirian sebagai media pendewasaan. Disana Saya menemukan arti penting keta’dziman terhadap beliau-beliau
yang mulia dan pertama kali dimuliakan oleh Tuhan. Iqra’ wa robbukal akrom. Alladzi ‘allama bilqalam (Bacalah dan
Tuhanmu Maha Lebih Mulia). Guru bersama Tuhan dalam akrom-Nya, karena Guru
bersinggungan dengan metode, sarana, maupun maintenance
pengajaran. Itulah makna qalam.
***
Dari
hal tersebut, Saya berusaha memampukan diri untuk menerapkan apa-apa yang telah
Saya dapat sebagai bentuk ikhtiar dalam menyempurnakan kualitas diri dengan
senantiasa menjaga rasa hormat terhadap dosen, ustadz, kyai, dan semua orang
yang Saya anggap sebagai guru Saya. Bagi saya, Every places
are my classroom and every people I met are my new teacher.
*Diketik
pada minggu kedua di bulan februari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar